Wajib tahu! 7 Efek jomblo kesepian bagi kesehatan

Rasanya baru kemarin nulis tentang validasi template AMP, siapa sangka sekarang sudah 2 minggu berlalu. Waktu serasa dipercepat, tak hanya aku yang merasa sepert itu tapi admin Sempolengan juga demikian. Katanya “perasaan beru kemarin jum’atan, ini sudah hari kamis lagi.” Apakah sobat Nalagila juga merasakan hal yang sama? Asyik pertanyaanya mirip yang diajukan seseorang kepada orang yang dia sayang.

Enak ya ada orang yang kita sayang dan menyayangi kita ( dalam artian kekasih ). Hidup ini jadi  bahagia dan kesepianpun sirna. Walaupun sobat mungkin menyangkal bahwa kasih sayang hanya dari kekasih saja. Yah sekarang sedang berasumsi bahwa tanpa kekasih itu kesepian.

Andaikan sobat tetap ngotot dengan argumen bahwa tanpa kekasih masih ada teman dan sahabat yang bisa menghapus rasa kesepian berarti biar saya yang ngalah. Sejujurnya itu hanya sekedar basa – basi saja, boleh dibilang mukodimah.

Namun kali ini kita memang akan membahas efek negatif kesepian bagi kesehatan. Tak hanya pola makan dan pola tidur yang berpengaruh pada kesehatan tubuh kita tapi kesepian ini jadi salah satu aspek yang jarang / tidak kita sadari.

Dr. Julianne Holt-Lunstad, Professor Psikologi dan Neurosains dari Brigham Young University dan Dr. Nancy Donovan, psikiatri dari Brigham and Women's Hospital -spesialis geriatrik dan neurologi, berbagi penjelasan tentang kesepian.

Seperti dikutip dari laman Insider keduanya menjelaskan, ada dua tipe kesepian, yakni subjektif dan objektif. Kesepian objektif artinya secara fisik  orang tersebut sendirian atau terisolasi secara sosial.
Sementara kesepian subjektif adalah kesepian secara emosional dan perasaan, meskipun secara fisik orang tersebut tidak benar-benar sendiri.

"Ada ketidaksesuaian antara keinginan pribadi dan level hubungan sosial yang terjadi," kata Holt-Lunstad.

7 Efek jomblo kesepian bagi kesehatan

1. Memicu perilaku tidak sehat
Jika hubungan positif memberikan dorongan untuk menjadi hidup sehat, maka sebaliknya buruknya hubungan sosial bisa memicu perilaku tidak sehat. Dalam sebuah studi menikah meminimalisir perilaku tidak sehat seperti mengkonsumsi obat, minum dan lain sebagianya. Saya sih setuju dengan studi ini, nalarnya adalah takut dimarahi istri bila melakukan hal tersebut. Hihi

2. Rentan terkena flu dan pilek
Sebuah studi pada tahun 2017 menemukan, mereka yang kesepian cenderung lebih rentan terkena gejala flu dan pilek. Studi tersebut mengekspos 159 orang dengan virus pilek umum. Mereka lalu dimasukkan ke karatina di hotel selama lima hari.

Tidak semua orang terserang penyakit. Namun, di antara mereka yang terserang, mereka yang merasa kesepian lebih rentan terkena virus tersebut 39 persen lebih tinggi. Secara terpisah, studi lainnya yang dilakukan pada tahun 2017 oleh Cacioppo dan Cole menemukan, sistem imun orang-orang yang kesepian cenderung lebih fokus memerangi bakteri ketimbang virus.

3. Mengacaukan pola makan
Sebuah studi di tahun 2012 yang fokus pada hubungan gangguan makan dan kesepian menemukan, banyak karakteristik kesepian yang terkait dengan gangguan makan. Sebut saja anoreksia, bulimia, dan binge-eating, ditemukan bisa terkait dengan kesepian.

Meski begitu, kesepian bisa menjadi faktor baik penurunan maupun kenaikan berat badan. Menurut studi tersebut, mereka yang berat badannya naik seringkali karena menjadikan makanan sebagai pereda rasa kesepian. Artinya, orang-orang yang kesepian cenderung lebih rentan terserang infeksi.

4. Kesulitan menghadapi stres
Menghadapi stres ketika kesepian dalam menjalani hidup sehari-hari mungkin akan lebih merusak kesehatan, dibanding menghadapi stres dengan bantuan orang lain. Sebuah studi pada tahun 2007 menemukan, dukungan sosial akan mengoptimalisasi respons neurokimia yang membantu melepas stres.

Temuan dari studi tersebut juga menunjukkan, dukungan sosial bisa melunakkan lingkungan dan kerapuhan genetis seseorang terhadap stres. Lebih jauh, dilansir Psychology Today, individu yang merasa kesepian dilaporkan memiliki level persepsi stres yang lebih tinggi.

Bahkan, ketika diekspos dengan faktor stres lain yang dialami orang-orang yang tidak kesepian kadarnya tetap lebih tinggi. Sekalipun ketika mereka sedang bersantai.

5. Sulit berinteraksi
Holt-Lunstad mengatakan, mereka yang merasa sangat kesepian juga merasa lebih terancam dengan situasi sosial. Meski terdengar aneh, namun kamu akan berasumsi bahwa mereka yang kesepian akan mengambil kesempatan untuk membentuk koneksi.

Ini adalah fenomena yang mengakar dalam perjalanan evolusi kehidupan. John Cacioppo, Profesor, Pendiri, dan Direktur Center for Cognitive and Social Neuroscience di University of Chicago menjelaskan kepada CityLab tentang hal ini.

Dia mengatakan, kesepian meningkatkan dukungan interaksi sosial, karena akan memotivasi seseorang untuk memperbaiki atau menggantikan hubungan yang dirasa hilang. Akibatnya, orang-orang yang kesepian cenderung lebih sensitif terhadap informasi sosial, buruk maupun baik.

Lebih jauh, Cacioppo menjelaskan, orang-orang cenderung sering takut terhadap hubungan dengan seseorang yang bisa saja berubah menjadi musuh.

Oleh karena itu, mekanisme syaraf menyebabkan mereka yang kesepian justru dipasung oleh keraguan yang besar ketika menghadapi situasi sosial.

6. Depresi
Menurut Donovan, kesepian bisa menjadi faktor tumbuhnya depresi. Salah satu buktinya adalah studi pada tahun 2006 lalu, yang melihat hasil dari dua studi berbasis populasi lainnya yang mempelajari orang-orang usia muda dan dewasa.

Kedua studi menemukan, kesepian tingkat tinggi berhubungan dengan gejala depresi dan keterkaitan ini cenderung bertahan stabil sepanjang usia seseorang.

7. Meningkatkan risiko kematian
Hold-Lunstad mempublikasikan dua studi besar yang membentuk efek keseluruhan kesepian sebagai faktor risiko kematian dini atau kematian terjadi sebelum rata-rata usia kematian pada populasi tertentu.

Studi pertama mempelajari tingkat hubungan sosial dan indikator sosial lainnya, seperti ukuran jejaring sosial dan dukungan sosial sebagai salah satu faktor risiko kematian.

Studi tersebut melibatkan 300.000 partisipan. Hasilnya, mereka yang memperoleh nilai rendah dari indikator-indikator hubungan sosial tersebut, memiliki risiko kematian yang sama dengan merokok 15 batang setiap hari.

Sementara, partisipan dengan hubungan sosial yang lebih kuat memiliki kemungkinan bertahan hidup 50 persen lebih lama. Ada pun studi lainnya melibatkan 3,4 juta partisipan, dan fokus pada kesepian subjektif dan isolasi sosial fisik.

Hold-Lunstad menemukan, kedua fakror bisa meningkatkan risiko kematian dini. Menurut dia, risiko tersebut melebihi risiko obesitas, ketidaktifan fisik dan polusi udara.

Nah kan, mulai sekarang coba deh obati rasa kesepian itu dengan ajak main kawan atau melakukan perjalanan ke satu tempat. oh iya bisa juga coba hunting sunset di Puncak Pacalan Indah Kemiri
Reaksi:

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Use parse tool to easy get the text style on disqus comments:
Show Parser Hide Parser