Menolak lupa anime yang pernah tayang di indonesia tahun 90 an

Hi sobat Nalagila, ada yang suka anime? Anime adalah dunia yang penuh imajinasi dan fantasi. Ibarat kata anime itu seperti air yang akan terus mengalir dan terus memberi kehidupan pagi pencintanya sampai nanti negara api menyerang. Yang mulai senyum berarti tahu darimana kalimat tersebut berasal, betul?

Sayapun menyukai anime sejak kecil , kalau dulu sih sebutannya kartun dan baru tahu sebutan anime beberapa tahun belakangan ini.  dulu libur sekolah adalah waktu yang dinanti karena bisa menyaksikan kartun daripagi hingga siang hari. Itu dulu, anak anak jaman sekarang lebih banyak menikmati tayangan dengan judul aneh aneh seperti “ istriku ternyata anakku” dan lain sebagainya.

Dulu di tahun 90an anime yang paling ditunggu itu ada dragonball, pokemon, sailor moon, saint saiya, hamtaro, crayon sinchan, inuyasha dan detectif conan.  Itu dari pagi selepas bersih bersih surau, cuci karpet di sungai ( sambil mandi dan latihan renang ) kami duduk manis di depan televisi, itupun televisi punya kawan yang jarak dari surau ke rumahnya 500 meter lebih.

Setelah usai acara, kalau tak salah hampir duhur kami pulang dengan letih dan lesu, maklum sewaktu berangkat nasi belum matang jadi perut kosong sampai siang. Kejadian itu berulang setiap minggu. Letih dan lesu itu tak terasa karena ramai-ramai.

Jika dibandingkan dengan tayangan televisi jaman sekarang saya merasa bersyukur karena tayangan yang kami tonton berbeda dengan jaman sekarang yang aneh aneh.  Kebiasaan nonton anime terbawa hingga sekarang , kami tak ingin ketinggalan anime anime episode terbaru maupun anime baru lainnya.

Kenapa sekarang tayangan anime di TV Indonesia sudah jarang? Usut punya usut katanya pihak televisi takut dengan sanksi dari KPI. Menurut KPI hampir semua tayangan anime itu berbahaya dan tidak mendidik serta mengandung unsur kekerasan dan bermacam alasan lainnya. Alasan lainnya adalah sendor ketat, tak heran bila yang ditayangkan tidak utuh 100% lagi karena banyak yang di cut dan di blur padahal sebenarnya itu tidak perlu.

Contohnya adalah rokok yang di blur, darah, lalu pakaian, senjatan dan lain sebagainya alasan penyensorannya karena tidak baik untuk anak yang masih dalam masa pertumbuhan. Sedangkan tayangan geng motor yang suka berantem kini sudah beribu episode. Itu tuh tayangan segerombolan orang yang rajin ibadah tapi suka tawuran.

Terlepas dari alasan yang lain seperti lisensi hak siar yang mahal, kalau tidak ada cut dan sensor yang membuat anime justru semakin tidak menarik. Mungkin biaya yang mahal masih ada jalan keluarnya. Atau jangan-jangan selera anak jaman now udah berubah? Mereka lebih suka dengan acara yang katanya reality show, ngikutin seseorang dengan kamera tersembunyi dimana orang yang diikuti memiliki kegiatan yang penuh dengan kontroversi kemudian ujung-ujungnya ribut

Menurut saya dengan adanya sensor tersebut justru membuat kita semakin penasaran dengan apa yang disensor, yang seharusnya belum mengerti dan tahu hal yang disensor justru paham lebih dulu. Niat hati ingin menyensor tetapi justru membuat penonton fokus pada yang disensor.

Kalau menurut sobat Nalagila bagaimana? Adakah generasi 90an yang mengalami hal tersebut, silakan tuliskan kesan dan pesan di kolom komentar ya.

Reaksi:

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Use parse tool to easy get the text style on disqus comments:
Show Parser Hide Parser