Untukmu yang selalu tunduk karena malu

Satu jalan beda arah, itulah kita setiap hari tanpa saling sapa. kau disisi sebrang jalan ku disini sebelah kiri.

Sore hari saat mentari tak terik lagi, senja kelabu semakin membuat kau menunduk malu tanpa kutahu alasanmu.

Hari ini ungu, besok hijau dan lusa biru semua itu berpadu beriringan memerah wajahmu. Tas slempang di pinggang jadi pengingatku.

Lama ku menunggu tuk mendengar suaramu, hampir sebulan berlalu begitu lama waktu berlalu.

Suara indah berbalut tata krama di ujung telephone dini hari, selalu di nanti walau hanya 2 kali seminggu.

Suara merdu bukanlah satu alasan tapi secuil bagian penyebab, terlalu hiperbolakah?

Entah dimana suaraku ketika bertemu, kelu lidah ini sampai tak mampu berucap sebab gugup.

Begitu rahasia pribadimu, hingga terpaksa kutanya bapakmu semua ceritamu.  walau ragu akan dapat jawabann tapi tetap kuberanikan.

Semua kekaguman tak pernah sirna hingga kini, kau tetap sosok penuh misteri.

Sungguh bahagia dia yang berasal dari kabupaten tetangga bisa bersama disinggasana. selamat dan semoga berkah bersamamu selalu.

Cukup sampai disini saja karena hati tak mampu lagi merangkai kata, sampai jumpa.

Reaksi:

You Might Also Like: