Phobia lubang kecil dan bintik bintik adalah mitos

Pernahkah Anda merasa jijik, bahkan mual dan keringat dingin keluar, ketika melihat sekelompok lubang-lubang kecil, seperti sarang lebah atau biji bunga teratai?

Anda tidak sendiri. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2013 dan dipublikasikan dalam situs Psychological Science, terdapat 16 persen orang yang mengalami rasa takut yang irasional terhadap lubang, atau yang dikenal dengan istilah trypophobia.

Dikenal sejak tahun 2005, Hasil penelitian itu menjelaskan tingkat trypophobia orang-orang bervariasi, mulai dari merasa tidak nyaman, sampai benar-benar merasa ketakutan.

Akan tetapi, sebuah penelitian terbaru mengatakan bahwa trypophobia sebenarnya bukan merupakan fobia. Dilansir dari situs Science Alert, trypophobia lebih merupakan rasa jijik, bukan takut.

Trypophobia memang tidak terlalu dapat dipahami, bahkan tidak dikenal oleh Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM). Hal inilah yang menggerakkan para peneliti dari Emory University di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, untuk mempelajari reaksi ketakutan yang terkait dengan sekelompok lubang ini.

"Beberapa orang merasa sangat terganggu melihat benda-benda seperti ini, sehingga mereka tidak tahan berada di dekat benda-benda ini," kata Stella Lourenco, seorang psikolog dari Emory University yang melakukan penelitian ini di laboratoriumnya.

"Kendati fenomena ini sepertinya beralasan, namun mungkin ini lebih umum dari yang kita sadari."

Penelitian yang dilakukan pada tahun 2013 menyimpulkan bahwa reaksi tersebut terkait dengan pola berlubang-lubang atau berbintik-bintik yang terdapat pada binatang berbahaya seperti ular.

Sementara penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dari University of Kent, Inggris, pada Januari 2017, memberikan penjelasan yang berbeda.

Mereka mengatakan bahwa pola berlubang-lubang, seperti yang biasa terdapat pada sarang lebah atau wadah biji teratai, menimbulkan rasa enggan karena menyerupai lubang-lubang akibat infeksi parasit atau penyakit menular lainnya.

Dalam media rilis yang diterbitkan pada 4 Januari 2018, Vladislav Ayzenberg, seorang mahasiswa pascasarjana dan penulis utama dalam penelitian di laboratorium Lourenco, mengatakan bahwa manusia adalah spesies yang sangat visual.

"Ciri-ciri visual tingkat rendah dapat menyampaikan banyak informasi penting. Isyarat-isyarat visual ini memungkinkan kita untuk segera membuat kesimpulan, apakah kita melihat bagian tubuh ular di rumput atau seluruh tubuh ular, dan segera bereaksi untuk menghadapi potensi bahaya."

Adalah hal umum, ketika melihat hewan yang mengancam atau berbahaya, sekalipun melalui gambar, umumnya akan memicu reaksi ketakutan, hal ini terkait dengan sistem saraf simpatik.

Tingkat denyut jantung dan pernapasan meningkat, serta pupil mata melebar. Tingkat kewaspadaan yang berlebih atau hyperarousal ini dikenal sebagai reaksi fight or flight atau 'lari atau bertarung'.

Atas dasar inilah, para peneliti kemudian menguji apakah reaksi fisiologis yang sama juga terjadi jika menggunakan gambar-gambar tentang lubang-lubang, seperti sarang lebah, yang tampaknya tidak berbahaya.

Penelitian yang hasilnya dipublikasikan dalam jurnal PeerJ ini melibatkan dua kelompok mahasiswa, yang masing-masing beranggotakan 41 dan 44 orang.

Kemudian mereka ditunjuki 60 gambar, yang terdiri dari 20 gambar hewan berbahaya seperti laba-laba dan ular, 20 gambar yang dapat memicu trypophobia seperti wadah biji teratai, dan 20 lainnya adalah gambar netral seperti binatang-binatang yang tidak berbahaya, biji kopi atau pola berulang dengan kontras yang tinggi.

Para peneliti kemudian mempelajari reaksi pupil mata dari orang-orang di kedua kelompok tersebut. Situs Quartz menyebutkan bahwa ketika orang-orang melihat hal yang berbeda dan mengalami perasaan takut atau jijik, pupil mata mereka berubah dengan cara tertentu.

Ketika para partisipan diberi gambar ular atau laba-laba, pupil mata mereka melebar. Namun sebaliknya, pupil mata mereka mengecil ketika diberi gambar kelompok lubang.

Menurut para peneliti, ukuran pupil yang mengecil menunjukkan perasaan jijik, bukan ketakutan, yang ditandai dengan membesarnya ukuran pupil mata.

Reaksi ketakutan meningkatkan fungsi kardiovaskular secara keseluruhan, seperti denyut jantung yang meningkat. Hal ini mendorong terjadi pembesaran pupil mata, sebagai hasil dari bahaya yang dirasakan. Sementara rasa jijik justru memperlambat denyut jantung, dan akibatnya justru mengecilkan ukuran pupil mata.

Kendati kesimpulan penelitian terbaru ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2013, namun para peneliti ini menyepakati satu hal penting. Yaitu 'rasa takut pada lubang-lubang' ini bervariasi tingkat keparahannya.

Penelitian ini mungkin saja tidak akan membantu mengurangi rasa mual karena melihat sarang lebah, akan tetapi dapat menunjukkan bahwa proses visual dapat menghasilkan reaksi kuat, yang bukan merupakan rasa takut.

Reaksi:

You Might Also Like:

Use parse tool to easy get the text style on disqus comments:
Show Parser Hide Parser