Bahaya untuk orangtua yang suka memarahi anak


Suatau kebahagiaan tersendiri bagi orang tua saat melihat anaknya cerita. tapi terkadang orang tua justru merasa kesulitan menangani anaknya yang aktif diluar batas kewajaran. Sering saya mendengar tetangga memarahi anak, membentak, mengancam bahkan ada juga yang memberikan hukuman fisik seperti mencubitnya agar si anak menjadi lebih tenang dan tidak berisik.

Aktif dan ceria yang luar biasa itu pernah saya alami juga ketika kecil dulu. waktu itu aku dan adikku sering sekali bercanda, mulai saling gelitik hingga berantem. misalnya ketika malam, niat awal ingin tidur bersama namun baru awal naik ke kasur sudah saling lembar bantal, gelitikan hingga endingnya marahan dan pisah ranjang. hihi kalau di inget inget lucu juga ya. namun waktu itu kami hanya berdua dirumah jadi orang tua tidak datang memarahi atau yang lainnya.

Memarahi anak, mengancam bahkan memberi hukuman saat anak kelewatan bercandanya atau melakukan hal buruk adalah ajaran yang salah. hal ini disampaikan oleh psikolog. misalnya ancaman akan di datangkan orangila atau di kasih jamu akan membawa trauma pada anak tersebut.

Bahaya untuk orangtua yang suka memarahi anak

Roslina Verauli seorang psikolog menilai bahwa alih-alih anak berubah, hukuman atau ancaman yang dijatuhi kepada anak yang berlaku salah dinilai dapat membuat pertumbuhan anak tidak berkembang. Terlebih jika hukuman yang digunakan adalah cara kekerasan. emoticon-Takut

Selanjutnya, Kebiasaan memukul akan membuat anak menjadi lebih agresif. Karena, anak cepat akan meniru orang yang berada di dekatnya atau sering berinteraksi dengannya. Pastinya hukumanya yang diteriama oleh si anak akan berpengaruh pada prilaku anak terutama saat dewasa nanti. Kemungkinan besar si anak akan mewariskan kebiasaan buruk itu pada anaknya.Ditegaskan kepada orangtua bahwa tidak selalu memberikan hukuman pada anaknya bila mereka berprilaku buruk. Melaikan anak dapat diberikan sebuah tantangan untuk melakukan sesuatu kebaikan.

Vera, reward and punishment mengatakan selama ini ada untuk memakai apakan perilaku itu pantas untuk diualangi lagi atau tidak. Biar anak-anak tidak mengulanginya lagi, maka orang tua haruslah berfikir kreatif tentang apa yang bikin prilaku yang tidak akan di ulanginya lagi.

Vera mengatakan hal tersebut bukan tanpa alasan menurutnya meningkatkan prilaku anak dengan hal yang positif akan mampu mengurangi hal yang negatif pada si anak. Pada dasarnya diskusi dilakukan saat dua atau lebih dari satu orang. Karena untuk mengatasi kondisi tersebut. Vera sendiri menilai bahwa anak benar-benar membutuhkan diskusi. Dan orangtua juga perlu mengetahui bagaimana cara untuk memulai awal berdikusi.

Perlu diingat saat berdiskusi harus mengikuti usia pada di anak. Jika anak masih kecil maka bentuk posisi diskusi dengan cara santai dan bermain, itu akan membuatnya bisa saling terbuka. Bukan dengan cara serius, si anak akan merasa bingung dan kesal.

Untuk jenjang sekolah dasar (SD) orangtua dapat melakukannya diskusi dengan berlaku sebagi teman pada anaknya. Perlu dicatat, Vera mengatakan orangtua harus membiarkan anaknya bercerita. Setelah itu mulailah bertanya lewat ungkapan atas ekspresi pada si anak agar memperdalam dirinya. Orangtua bisa bertukar cerita pengalaman saat masih duduk di bangku sekolah.

Jadi mulailah membimbing anak dengan cara kasih sayang dan jangan membiarkan si anak bertingkah laku yang negatif. oleh karena itu sebagai orang tua kita harus banyak belajar tentang bagaimana mengasuh anak yang baik, sehingga melahirkan sosok pemimpin bangsa dimasa depan.
Reaksi:

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Use parse tool to easy get the text style on disqus comments:
Show Parser Hide Parser